Translate provided by Google

           

ARV di Indonesia

Tekanan aktivis di seluruh dunia dan negosiasi langsung dengan perusahaan farmasi selama 1 dekade terakhir telah menunjukkan keberhasilan untuk menurunkan harga ARV melalui industri obat generik.

Penyediaan ARV generik telah menjadi instrumen perluasan pengobatan AIDS pada negara – negara ekonomi sedang berkembang. Kesuksesan metode ini telah memberikan pengobatan AIDS bagi lebih dari 4 juta orang terinfeksi HIV diseluruh dunia. Hal ini tidak mungkin terjadi bila tidak ada penurunan harga obat ARV.

Dibalik seluruh kesuksesan tersebut, tantangan dalam penyediaan obat ARV murah masih terus ada. Tidak semua obat ARV yang dapat digunakan mengobati AIDS tersedia dengan harga yang terjangkau. Artinya, banyak obat – obat ARV yang efektif mengobati AIDS hanya ada dinegara – negara barat atau negara maju.

Sesuai dengan RENSTRA dan RAN JOTHI 2008 - 2010 JOTHI melakukan advokasi bijak dalam permajuan akses pengobatan HIV dan AIDS di Indonesia. Melalui kegiatan “National Treatment Summit” pada 20 – 22 Desember 2009, JOTHI menggunakan momentum pertemuan pengobatan tersebut sebagai media untuk membangun upaya perbaikan akses ARV di Indonesia sebagai bagian kerangka advokasi Nasional. Pendidikan mengenai obat ARV termasuk aspek yang mempengaruhi pengadaan serta rantai distribusinya menjadi fokus utama pada aktifisme penanggulangan AIDS dalam dimensi ‘penyelamatan hidup sekaligus pencegahan infeksi baru”.

Dalam waktu empat (4) bulan JOTHI telah membangun upaya – upaya konkrit melalui kemitraan formal dan informal yang bersifat langsung maupun tidak langsung dengan beberapa pihak, diantaranya; Kementrian Kesehatan; SUBDIT AIDS P2PL, Direktorat Bina Obat Publik, Dirjen HKI KEMENKUMHAM; BPOM; Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN); Third World Network (TWN); Kimia Farma; APN+; ITPC; WHO Country Office di Indonesia .