Translate provided by Google

           

Pelatihan Perempuan POKJA Perempuan JOTHI Berbicara Positif; Pengembangan Organisasi dan berjejaring 18 – 23 Juli 2010

Latar Belakang

Dalam banyak badan pengambilan keputusan, seperti KPAN atau CCM isu perempuan sering tidak dimasukkan dan seringkali hilang karena kebanyakan perwakilan dilakukan oleh laki-laki, begitu juga pada orang terinfeksi HIV. Bagaimanapun juga harus diakui banyak pandangan berharga perempuan yang perlu dimasukkan, dengan banyak cara termasuk melalui konsultasi dan koordinasi yang jelas. Perempuan terinfeksi HIV menghadapi berbagai tantangan dan pengalaman dibidang pencegahan, perawatan, dukungan dan pengobatan terutamam diruang perempuan terinfeksi Hiv dipimpin oleh perempuan yang tidak terinfeksi HIV.

Beberapa diskusi mengangkat kurangnya kepercayaan diri perempuan dalam menyatakan kebutuhannya secara terbuka ataupun ketrampilan untuk mengambil serta berperan dengan tanggung jawab yang lebih besar didalam organisasi. Paradigma bahwa perempuan adalah korban sebagai strategi advokasi juga sering disalah artikan dan diselenggarakan dengan pemahaman yang bias gender dalam gerakan pemberdayaan perempuan.

Dinegara berkembang seperti Indonesia, perempuan membutuhkan lebih banyak ketrampilan dan lebih banyak kesempatan untuk mengakses atau mengendalikan (memimpin) dalam melakukan promosi kontribusi positifnya. Dalam meningkatkan kapasitas perempuan terhadap intimidasi dan pelecehan yang dihadapi dalam organisasi – organisasi yang belum memiliki keberpihakan pada perempuan maka upaya pemecahan masalah tersebut harus segera dilakukan.

JOTHI sebagai organisasi orang terinfeksi HIV yang telah menyediakan dan menyelenggarakan kebijakan yang menjaminkan kesetaraan gender dan anti kekerasan; maka JOTHI sebagai organisasi mencari upaya – upaya untuk dapat mengenali, mencegah dan membuka upaya mitigasi terhadap stigma serta disriminasi yang secara dihadapi oleh perempuan, bahkan diantara kalangan perempuan sendiri. Pendekatan inti untuk meningkatkan kapasitas perempuan diterapkan oleh JOTHI untuk dapat membuat teman – teman perempuan mampu bekompetisi dan bekerja sama dengan laki – laki ataupun identitas gender lainnya.

Tujuan Pelatihan dan Hasil Yang Diharapkan

Dalam JOTHI, ketrampilan, kesempatan dan kepercayaan diri dalam memfasilitasi perempuan agar dapat mengapai posisi yang lebih penting dan bermakna adalah sangat krusial.

Harapannya setelah pelatihan, perempuan terinfeksi HIV akan dapat:

  • Melakukan bicara didepan publik.
  • Menyelenggarakan organisasi.
  • Melakukan pekerjaan sebagai bagian dari tim.
  • Melakukan kerja – kerja advokasi.
  • Memiliki karakter membantu yang lainnya.
  • Melayani secara efektif sebagai ‘perwakilan’ organisasinya.

 

Metode Yang Digunakan dalam Pelatihan

Metode
Topik
Penyusunan ruang belajar
Ceramah
Pemutaran film (studi kasus)
Pengembangan keluarga untuk negara
Melukis
Bermain peran
Kerja Tim (aksi sportif)
Membuat jurnal
Pidato perempuan
Saling mengenal satu dengan yang lainnya
Tes pra dan sesudah pelatihan
Ekspresi perasaan (Assertiveness)
Forum/pertemuan pengambilan keputusan Decision making
Perawatan diri
Dokumentasi hidup dan pengelolaan stress 
Kepemimpinan dalam memahami hak
Pengembangan program
Strategi dan taktik advokasi 
Berbicara didepan publik – bagaimana berbicara dan memahami lawan bicara