Sejarah JOTHI

Tahun 2001
Deklarasi komitmen PBB terhadap HIV/AIDS menyetujui prinsip GIPA yang selanjutnya dimasukkan dalam prinsip panduan inisiatif pengobatan ‘3 pada 5’ (mentargetkan tiga juta orang terinfeksi HIV di negara berpenghasilan rendah dan menengah dapat mengakses Anti-RetroViral (ARV) pada akhir tahun 2005). Prinsip tersebut menyatakan bahwa inisiatif ini telah menempatkan kebutuhan dan pelibatan orang terinfeksi HIV/AIDS sebagai pusat dari semua program yang diselenggarakan WHO tahun 2003. Sejak itu UNAIDS selalu mempromosikan GIPA dengan melibatkan orang terinfeksi HIV dalam semua tingkatan, termasuk dalam Komite Koordinasi Program mereka (PCB).

Menelaah proses Indonesia dalam membangun jaringan bermula setelah sebuah pertemuan Nasional ODHA diselenggarakan oleh Almarhumah Zusanna Murni.

Kenali karakter beliau dengan membaca bukunya, “Dua Sisi dari Satu Sosok” dan “Lilin Membakar Dirinya”.
JOTHI menghaturkan apresiasi terhadap apa yang telah beliau lakukan dengan memberikan inspirasi perjuangan yang murni bagi para orang terinfeksi HIV.

Tahun 2002
Diskusi mengenai kebutuhan Jaringan ODHA Nasional - JON di Indonesia mulai bergulir.Pembentukan tim perumus dimulai pada akhir Februari 2007. Tim tersebut bekerja untuk merumuskan sebuah Jaringan orang terinfeksi HIV Nasional. Sebuah lokakarya mengenai GIPA diselenggarakan oleh para aktivis terinfeksi HIV melalui dukungan UNAIDS pada akhir 2006. Dalam lokakarya tersebut UNAIDS Geneva mengirimkan seorang penasihatnya (GIPA advisor) untuk berbagi pengalaman mengenai penerapan GIPA di bagian dunia lain. Lokakarya tersebut dihadiri oleh 17 orang komite pengarah (terdiri dari ODHA dan OHIDHA) yang saat ini hanya 20% dari mereka yang tetap menjalankan kesepakatan sejati untuk mendukung Jaringan Orang Terinfeksi HIV Indonesia – JOTHI.

1 Maret 2007
Terbentuknya tim perumus JOTHI; Dimulailah kerja – kerja nyata melalui 5 pertemuan kerja dengan melakukan konsultasi kepada lebih dari 600 orang terinfeksi HIV diseluruh Indonesia dengan fasilitasi 3 orang terinfeksi HIV. Dengan dukungan yang seadanya diselesaikanlah proses pembentukan Tim Perumus melalui inisiatif banyak pihak termasuk teman - teman terinfeksi HIV sendiri. Dalam perjalanan tim perumus dari awal 2007 hingga 2008 beberapa tulisan – tulisan yang mengiris hati yang dikirimkan oleh orang – orang terinfeksi HIV menggambarkan pengalaman mereka berupa: dipaksa membuka status oleh LSM pendamping sebagai upaya kesaksian dalam melawan stigma dan diskriminasi, putusnya distribusi dan sediaan obat ARV ditengah terapi bahkan penghakiman oleh penyedia layanan yang mengharuskan mereka menghentikan terapi ARV bila ditemui indikasi masih menggunakan narkotika suntik.

Pemanfaatan kehadiran teman – teman terinfeksi HIV dalam berbagai kegiatansebagai asset untuk menggalang dana donatur terus diselenggarakan, penolakan dalam mengakses layanan kesehatan terus terjadi walaupun banyak klaim mengenai kemajuan penanggulangan AIDS oleh organisasi pemberi layanan secara umum, pengusiran dan pemisahan tempat tinggal oleh keluarga dari rumah menjadi hal yang dilupakan walau terjadi berulang di beberapa daerah pelosok, pembakaran rumah tinggal oleh penduduk kampung sampai penolakan pemandian jenazah masih terjadi hingga saat ini.

Puluhan kebijakan klinis baru diadopsi dan diselenggarakan tanpa dukungan kebijakan kesehatan masyarakat yang dengan nyata memandulkan upaya penanggulangan AIDS di Indonesia. Tetap dengan keadaan tersebut para pemegang kebijakan dan pemegang sumberdaya  tidak bergeming justru semakin membabi buta dalam menyelenggarakan penanggulangan AIDS tanpa susunan kurikulum “pemberdayaan” yang memadai, sehingga membuat mereka yang benar – benar ingin membantu dalam penanggulangan ini kehabisan energi bahkan semangat dan menjadi apatis dalam pertarungan perebutan sumberdaya. Menariknya, investasi penanggulangan AIDS yang begitu besar juga diserap tanpa mampu menghasilkan dampak berarti secara konsisten dan terjamin keberlangsungannya terutama dalam perang melawan stigma dan diskriminasi.

Dasar utama pembentukan JOTHI adalah kebutuhan orang terinfeksi HIV di Indonesia yang selama ini kesulitan untuk menjadi berdaya.

Seiring dengan meningkatnya ide – ide menjadi berdaya secara penuh yang dituangkan dalam banyak tulisan – tulisan mengenai “pemberdayaan orang dengan HIV/AIDS”.

8 Juli 2008, pk. 11:20 WIB;
JOTHI mendeklarasikan diri di Jakarta. Deklarasi tersebut dilakukan oleh 124 orang terinfeksi HIV di Indonesia yang berasal dari 27 Provinsi.
Musyawarah Nasional tersebut difasilitasi sebuah tim perumus yang beranggotakan 13 orang terinfeksi HIV dan 2 orang aktivis yang tidak terinfeksi HIV.

Sebuah konsep yang tegas menentang simbolisasi pelibatan atau lebih mudah dikenal dengan istilah tokenisme atau pembonekaan.

(informasi lebih lanjut dapat menghubungi Sekretariat Nasional JOTHI).

Acknowledgment:
Terima kasih bagi seluruh pihak yang telah mendukung.
JOTHI akan terus berkegiatan secara independen dalam mencapai visi dan misi organisasi.
Beribu maaf kami sampaikan bagi teman – teman yang terlibat di awal dan kini merubah niat dan posisi dalam memberikan dukungan, tidak semua orang terinfeksi HIV di Indonesia saat ini tergabung menjadi anggota JOTHI. Tetapi secara jelas dan sadar JOTHI memperjuangkan kepentingan orang terinfeksi HIV di Indonesia secara umum, terutama orang terinfeksi HIV sendiri yang paling dipinggirkan bahkan diantara kelompok – kelompok, LSM, pemerintahan dan kehidupan bermasyarakat, bernegara dan berbangsa.

Bagi teman – teman terinfeksi HIV yang hidupnya telah cukup mapan dan tenang dengan semua dukungan yang bertumpuk diharapkan dapat memberikan dan membagi dukungan nyata bagi perjuangan ini. JOTHI akan membantu meningkatkan kualitas hidup orang terinfeksi HIV dan penanggulangan AIDS secara menyeluruh melalui upaya – upaya yang lebih efisien dan efektif demi melindungi ketahanan warga negara Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat, adil dan bertanggung jawab dengan menjujung tinggi nilai – nilai kehidupan tanpa stigma dan diskriminasi.

“Satu Tujuan, Satu Jaringan, Satu Suara”

Salam Perjuangan,
Sekretariat Nasional JOTHI