Translate provided by Google

           

Sosial dan Politik diranah HIV/AIDS

Permasalahan sosial inilah yang kerap kali muncul terhadap orang terinfeksi HIV, mulai dari cara pandang terhadap masa lalu, cara hidup yang dianggap menyimpang, seks yang tidak aman, penggunaan narkotika tanpa alat suntik yang steril, tidak patuh terhadap agama hingga dilahirkan terinfeksi HIV. Konsekwensi sosial yang dihadapi akibat pandangan masyarakat yang tidak benar inilah yang secara tegas memunculkan perlakuan diskriminasi, perlakuan diskriminasi yang dilakukan tersebut amatlah beragam, ada yang dijauhi oleh keluarga dan tetangga bahkan pengusiran dari tempat tinggal, ditolak oleh pelayanan kesehatan, kehilangan pekerjaan karena terinfeksi HIV atau bahkan tidak dapat memperoleh pekerjaan, hak perlakuan sebagai warga negara juga bahkan dihilangkan pada beberapa aspek seperti partisipasi dalam pemerintahan. Bila pembaca dapat mengingat bahwa beberapa partai politik menggunakan ".....kader kami harus bebas HIV" sebagai alat politik mereka dibanyak kampanye yang mereka lakukan. Diskriminasi sosial justru menjadi komoditas jualan dan dianggap sebagai metode yang trendy di masyarakat saat ini. Diskriminasi dimana status sosial dan kelas sosial 'rendahan' menjadi hal yang umum bagi orang terinfeksi HIV. Hak orang terinfeksi HIV sebagai manusia dilanggar dengan konstruksi dan susunan sosial yang sistimatis tanpa mendapatkan ruang yang jelas untuk diperbaiki. Orang terinfeksi HIV sebagai rakyat tidak pernah dinafikkan dan dinihilkan.

Sayangnya kejadian - kejadian diskriminasi sosial tersebut tidak dapat melindungi masyarakat dari bencana yang ditimbulkan oleh HIV dan AIDS, namun secara nyata menimbulkan kesenjangan sosial yang lebih besar di masyarakat. Kerugian negara juga meningkat akibat kejadian - kejadian tersebut. Pelanggaran HAM menjadi hal yang biasa, HUKUM tidak berpihak pada rakyat yang lemah tetapi menjadi alat penguasaan dan dominasi kepentingan yang tidak pro rakyat.

Kebutuhan menghadapi fakta sosial inilah yang melatar belakangi JOTHI untuk melakukan pendidikan sosial, walaupun kebanyakan anggota JOTHI bukanlah ahli sosial, keyakinan untuk mengapai perubahan yang lebih baik dimana setiap individu dapat hidup berdampingan dalam masyarakat menjadi tujuan sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih aktif dalam membangun konstruksi sosial yang lebih baik.

klik koneksi ini untuk belajar lebih jauh mengenai kaitan HIV dan AIDS dan aspek Sosialnya

Bila politik didiskusikan sebagai sebuah faktor epidemi, umumnya ini dilakukan hanya untuk mendapatkan dukungan politik tingkat tinggi untuk pencegahan serta inisiatif pengobatan HIV dan AIDS. Sebagai balasan dari komitmen politik maka presentasi yang dapat memproyeksikan dampak HIV dan AIDS pada pendidikan, kesehatan dan sektor lain menjadi sensitif bagi pembuat keputusan bersama dengan pemanjaan moralitas untuk mendapatkan perhatian terhadap epidemi. Saat komitmen politik tidak tercapai, maka kecenderungan untuk meyalahkan dengan alasan ‘kurangnya keinginan politik’ mencuat tajam.

Tetapi penyediaan fakta-fakta, bukti-bukti dan peningkatan kapasitas hanyalah suatu bagian untuk mendapatkan komitmen politik. Banyak sekali kepentingan yang bermain diantara pembuat kebijakan,faktor-faktor inilah yang berkontribusi kepada dinamika pengambilan keputusan diantaranya adalah keuntungan atau kerugian pribadi/golongan akibat keputusan tertentu, pertukaran kepentingan yang satu dengan yang lain.

klik koneksi ini untuk belajar lebih dalam mengenai Politik dalam penanggulangan HIV dan AIDS

Sosial Politik; Analisis Wacana - Pegiat Berita HIV dan AIDS

Mari menjadi cerdas dan pintar bersama - sama. HENTIKAN PEMBODOHAN!