- Arsip 2008
- Angka Infeksi HIV di Yogyakarta Meningkat
- Hampir Seluruh Subang Masuk Wilayah Penularan HIV
- JOTHI NTT Meminta Polisi Usut Penyebar Isu
- Populasi ODH di Medan terbanyak se-Sumatera Selatan
- Potensi Orang dengan HIV di Acuhkan
- Konsultasi Populasi Kunci Mengenai Global Fund Dengan Anggota CCM Indonesia
- Vaksin HIV Ditemukan
JOTHI Kick Off Kampanye 'Kepala Daerah Harus Peduli Penanggulangan AIDS - Jambi'
JAMBI, JOTHI-- 15 JUNI 2010: Orang terinfeksi HIV menolak calon gubernur dan wakil gubernur Jambi yang tak peduli atas permasalahan HIV/AIDS di Jambi. Pencegahan, perawatan, dukungan dan pengobatan HIV/ AIDS harus menjadi perhatian calon kepala daerah, mengingat tingkat pertambahan jumlah kasus HIV semakin mengkhawatirkan. Hampir setiap bulan, setidaknya 12 - 15 kasus baru dilaporkan.
Koordinator Jaringan Orang Terinfeksi HIV Indonesia (JOTHI) wilayah koordinasi Provinsi Jambi Yuly mengatakan, jumlah orang yang terinfeksi HIV di Jambi melonjak secara signifikan daalam 2 tahun terakhir. Pada 2008, jumlah penderita 287 orang, naik menjadi 401 orang —naik hampir 50 persen—pada 2009. Jumlah orang yang terinfeksi terus bertambah menjadi 435 penderita pada Maret tahun ini.
”Mengingat tingginya pertambahan jumlah penderita baru HIV/AIDS, sudah semestinya calon kepala daerah memberi perhatian lebih pada permasalahan ini,” ujarnya. Keenganan Kepala Daerah merespon isu ini sebagai isu salah satu isu pembangunan akan membuat kesehatan masyarakat JAMBI memburuk dengan cepat.
Karena itu, menurut Yuly, JOTHI menyatakan secara tegas menolak calon kepala daerah yang tidak peduli masalah HIV/ AIDS, baik dalam aspek pencegahan, dukungan, perawatan, maupun pengobatan bagi yang terinfeksi HIV.
”Kami memandang ini penting karena Jambi mengalami ancaman ledakan kasus HIV. Perlu upaya serius pemerintah daerah,” tuturnya. "sepantasnya penanggulangan AIDS dimasukkan dan digarap secara serius oleh Gubernur yang dipilih", ujarnya.
Pemimpin yang baru diharapkan meningkatkan upaya penanggulangan, seperti memastikan ketersediaan obat ARV, alat tes, penatalaksanaan pengobatan, dukungan pendanaan, serta perbaikan program pencegahan penularan HIV ibu hamil kepada bayinya.
Staf JOTHI Provinsi Jambi Ade Irma Firmansyah S.H mengatakan, lemahnya terapan komitmen Pemerintah dalam menyelenggarakan upaya - upaya penanggulangan AIDS yang lebih serius. Stigma dan diskriminasi yang masih kental di Jambi membuat masyarakat yang ingin memerikasakan kesehatan terkait HIV dan AIDS menjadi takut untuk mengetahui status HIV-nya. Ini akan membuat laju epidemi semakin cepat dan tidak terbendung. "Bahkan Direktur RS. Raden Mattaher mengatakan bahwa upaya PMTCT di Jambi tidak cost efektif dan cost benefit, pasien akan kabur bila tahu disini ada perawatan HIV/AIDS", kutip Ade yang diambil dari sebuah surat kabar lokal. "Memang menyedihkan kalau private good lebih penting dari publik good", tambah Ade.
Diskriminasi terhadap orang terinfeksi HIV terus terjadi, penolakan bagi orang terinfeksi HIV untuk dapat mengakses layanan umum semakin mengkhawatirkan. "Lupakah negara ini bagaimana ayah saya sebagai seorang bapak dan suami yang selalu menunaikan tugasnya membayar pajak, beginikah balsan bagi warga negara yang taat?", Ade berkata.
Pada saat yang sama, Koordinator Nasional JOTHI yang diundang secara khusus melalui dukungan Kementrian Dalam Negeri memberikan ulasan secara umum mengenai pentingnya kesadaran Kepala Daerah dalam mendukung upaya penanggulangan AIDS. Kebijakan anggaran diperlukan untuk memastikan penerapan strategi dan naskah kebijakan lain terkait HIV/AIDS. Sudah seharusnya Kepala Daerah ikut berpartisipasi sesuai Instruksi Presiden No. 3 Tahun 2010 mengenai Pembangunan yang Berkeadilan dimana penanggulangan HIV/AIDS, Tuberculosis dan Malaria sesuai tujuan pembangunan millenium (MDGs) harus cepat dicapai.
Kegagalan merespon permasalahan HIV dan AIDS akan membuat hilangnya angkatan kerja produktif, bayi yang terinfeksi HIV, anak terinfeksi HIV yang dikeluarkan dari sekolah hingga kehilangan hak atas pendidikan, pengusiran tempat tinggal, isolasi sosial, serta rangkaian gejolak sosial lain yang akan semakin menimbulkan kerugian sosioekonomi yang lebih besar. Semoga konflik moralitas akibat lambannya respon Kepala Daerah pada hal ini dapat dihindari.(VVI)
Berita terkait lainnya:







Komentar
Pernyataan tegas JOTHI
Pernyataan tegas JOTHI Wilayah Koordinasi Provinsi Jambi dengan menolak calon kepala daerah tidak peduli permasalahan HIV dan AIDS, perlu di acungin jempol. Sudah saatnya kepala daerah peduli dengan hal ini, karena kepala daerah akan menjadi unjung tombak dalam implementasi Instruksi Presiden No. 3 Tahun 2010 mengenai Pembangunan yang Berkeadilan..
Salut.....Salut....
Sependapat sekali, memang
Sependapat sekali, memang sudah seharusnya semua calon gubernur dan wakil gubernur menjadikan permasalahan HIV dan AIDS sebagai salah satu prioritas dari rencana kerjanya di provinsinya masing-masing,karena permasalahan HIV dan AIDS akan selalu mengalami hambatan apabila tidak benar-benar didukung oleh beliau-beliau ini. Salut untuk teman-teman di Provinsi Jambi..viva advokasi bijak..!!
salut saya ucapkan atas usaha
salut saya ucapkan atas usaha teman teman terinfeksi HIV di JAMBI, dan saya setuju untuk menolak calon gubernur dan wakilnya yang tidak peduli dengan permasalahan HIV dan AIDS di Provinsi nya, sekiranya ini menjadi motivasi untuk orang terinfeksi HIV di Provinsi lainnya.
Beri Komentar Baru